Inilah Fungsi Drone Untuk Fotografer Profesional

Inilah Fungsi Drone Untuk Fotografer Profesional

Namun sekarang ini fotografer tidak perlu lagi melakukan langkah-langkah yang menyita waktu dan tenaga tersebut. Kini ada peralatan canggih bernama drone alias pesawat nirawak. Asyiknya, drone bisa dikendalikan secara jarak jauh via remote control atau smartphone dari aplikasi.

Inilah Fungsi Drone Untuk Fotografer Profesional
Inilah Fungsi Drone Untuk Fotografer Profesional

“Drone tak bisa dimungkiri telah memberikan perspektif berbeda dalam dunia fotografi. Cukup terbangkan drone, fotografer tak perlu menghabiskan waktu mendaki puncak untuk mendapatkan foto panorama alam dari ketinggian,” kata fotografer profesional Sigit Prasetyo.

Sigit menuturkan, perspektif gambar yang dihasilkan pun begitu kaya sehingga fotografer bisa memotret dari berbagai sudut ketinggian. Dan hal tersebut bisa menambah kreativitas fotografer untuk menghasilkan karya yang out of the box.

“Fungsi drone bahkan bisa menggantikan dan melampaui kamera konvensional yang selama ini digunakan oleh banyak fotografer. Drone tidak hanya membantu untuk memotret pemandangan alam, tetapi juga lanskap sebuah kota,” ucapnya menambahkan.

Teknologinya juga kian canggih, di mana ada drone yang punya kecepatan terbang hingga 72 kilometer per jam. Fitur ini terdapat pada DJI Mavic 2 Pro dan Mavic 2 Zoom yang baru saja meluncur di Tanah Air.

Kedua drone tersebut bahkan mampu terbang hingga 31 menit (teknologi sebelumnya hanya terbang sekitar 15-20 menit). Dari segi kamera, Community Development Erajaya, Benedictus Wijiadi menjelaskan kalau drone itu dilengkapi kamera optical zoom 24-48 mm.

“Saat pengguna ingin memotret atau merekam aktivitas olahraga, drone ini bisa memantau dari jauh dan aman dari bola yang melayang. Juga aman untuk memotret hewan dari kejauhan tanpa harus khawatir drone akan diserang,” paparnya.

Suku Langka di Hutan Amazon Terekam Kamera Drone

Suku Langka di Hutan Amazon Terekam Kamera Drone

Suku Langka di Hutan Amazon Terekam Kamera Drone – Sejumlah foto yang menunjukkan suku pedalaman langka di hutan Amazon, Brasil beredar di media. Menurut laporan News.com.au, suku tersebut belum pernah terjamah oleh para peneliti dan belum banyak ahli yang mengetahui keberadaan mereka.

Gambar yang terekam melalui pesawat tak berawak atau drone memperlihatkan 16 orang berjalan melintasi hutan rimba dan area yang terdeforestasi dengan tanaman.

Dalam klip yang dirilis pada minggu ini, salah satu anggota suku itu tampak membawa busur dan anak panah.

Suku Langka di Hutan Amazon Terekam Kamera Drone

Lembaga urusan masyarakat adat di Brasil, Funai, menyampaikan bahwa keberadaan suku langka yang belum diketahui namanya itu tertangkap kamera drone dalam ekspedisi yang dilakukan untuk memantau orang-orang yang hidupnya terisolasi.

Suku Langka di Hutan Amazon Terekam Kamera Drone

Peneliti memantau suku tersebut di Vale do Javari, sebuah wilayah adat di bagian barat daya negara bagian Amazonas, Brasil. Ada 11 kelompok suku yang dikonfirmasi hidup di daerah terisolasi itu.

Funai telah mempelajari kehidupan mereka selama bertahun-tahun, tetapi ini merupakan pertama kalinya Funai dapat mengabadikan mereka lewat kamera.

“Gambar tersebut menyimpan pesan tersembunyi bagi masyarakat dan pemerintah agar mau merenungkan betapa pentingnya melindungi kelompok-kelompok itu,” kata Wallace Bastos, presiden Funai.

Bruno Pereira, yang mengkoordinasikan penelitian Funai tentang kelompok-kelompok terisolasi di kawasan hutan Amazon, mengatakan bahwa dokumentasi ini juga membantu para peneliti dalam mempelajari budaya mereka.

Funai belum dapat mengidentifikasi nama suku tersebut, meskipun Pereira telah menebak tentang etnisitas dan bahasa yang dibicarakan mereka.

“Semakin kita tahu tentang cara hidup masyarakat yang terisolasi, maka kita harus semakin siap untuk melindungi mereka,” ungkap Pereira.

Secara keseluruhan, lembaga tersebut telah mendaftarkan 107 suku terasing yang ada di negara-negara di Amerika Latin –sebagian besar di hutan Amazon. Meski Funai berhasil mengambil foto dan video suku itu, namun para tim peneliti belum membuat kontak dengan mereka selama lebih dari 30 tahun.

Pereira mengklaim, suku ini sadar akan keberadaan kehidupan modern, kota-kota metropolitan dan lahan pertanian di sekitar mereka, tetapi mereka lebih memilih untuk menutup diri karena pengalaman traumatis dengan dunia luar.

Kontak eksternal dinilai oleh suku tersebut sebagai hal buruk, atau bisa membantai mereka, hingga epidemi (wabah) yang dapat memusnahkan sebuah suku.

Tahun lalu, sekelompok penambang emas ilegal diduga menewaskan 10 orang dari sebuah masyarakat yang terisolasi.

“Jika mereka ingin berkontak dengan dunia luar, mereka bisa menembukan caranya dengan berkomunikasi dengan kami,” kata Pereira.

sumber : liputan6.com

Terbangkan Drone di Candi Borobudur Akan Ditembak

Candi Borobudur

Balai Konservasi Borobudur (BKB), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan tarif untuk pemanfaatan Candi Borobudur. Upaya ini dilakukan mendukung kelestarian candi warisan budaya dunia tersebut.

Kepala BKB, Tri Hartono, menyebutkan instansinya memiliki lahan seluas 16 hektare dengan bangunan candi 126 m x 126 m di atasnya. Bangunan candi tidak bisa diubah atau ditambah, tetapi sebaliknya harus dilestarikan. Upaya ini demi menghadapi berbagai masalah di antaranya masalah sosial dan teknologi yang terus berkembang.

Atas dasar itulah, pihaknya menilai perlu ada pembatasan pemanfaatan Candi Borobudur, salah satunya dengan penetapan tarif.

Candi Borobudur

“Tujuan utama kami adalah pelestarian Candi Borobudur. Pemanfaatan candi harus ada batasnya, sebab jika dibebaskan, maka akan terjadi crowded, makanya kami batasi demi kelestarian bangunan ini,” katanya, kepada Harian Jogja (Solopos.com grup), Minggu, 10 Juni 2018.

Selain itu, BKB juga berupaya melaksanakan imbauan kementerian bahwa setiap instansi diminta turut memanfaatkan aset negara agar bisa menghasilkan pendapatan guna mendukung APBN. Penarikan tarif penggunaan Candi Borobudur ini, hasilnya disetor sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Penetapan biaya pemanfaatan Candi Borobudur berdasarkan keputusan BKB adalah pemotretan prewedding di lapangan Aksobya Rp1 juta, halaman Candi Borobudur Rp2 juta, dan di bangunan candi Rp2 juta, tetapi dibatasi hanya lantai 2/selasar.

Pemanfaatan lain yang juga akan ditarik biayanya yakni penggunaan drone Rp2,5 juta, lampu panorama Rp1,25 juta per jam, dan syuting untuk hiburan bukan iklan Rp2,5 juta. Penetapan tarif ini diputuskan pada 30 April 2018.

Selama sekitar dua bulan pelaksanaannya, Tri menyebutkan pendapatan yang diperoleh cukup tinggi, sekitar Rp80 juta. “Tapi kami tidak memasang target, sebab tujuan kami adalah upaya pelestarian bangunan candi,” tegasnya.

Guna mengoptimalkan perolehan pendapatan ini, petugasnya diminta melakukan pengamatan jika dimungkinkan ada oknum yang berupaya memanfaatkan Candi Borobudur tersebut tanpa izin dan tanpa membayar tarif yang telah ditetapkan tersebut.

Bahkan, jika ada yang melanggar, instansinya tidak segan untuk melakukan tindakan. “Misalnya saja, kalau ada drone masuk dari luar dan tidak berizin, bisa saja kami tembak. Yang jelas kami awasi guna pelestarian candi,” jelasnya.

sumber: liputan6.com